
Usai membaca buku karangan Nagiga Nur Ayati saya langsung menelpon ayah. ‘Apa kabar ayah? ucapku sambil berharap ayah baik-baik saja. Di relung hati kusematkan namamu dalam doa. Kami sayang Ayah. Maaf, aku tak pernah mengatakannya. Kuharap kau selalu dalam keadaan baik dan sehat disana. Ayah, tak terasa waktu bergulir dan aku beranjak dewasa ayah. Tapi, semangat dan tenagamu untuk kami sekeluarga tak pernah pudar sedikit pun. ‘Kagum’ setidaknya hanya kata kecil yang bisa kuucapkan. Ayah, sungguh kuingin membuatmu bahagia juga bangga.

Banyak kalimat yang ayah pernah ucapkan lantas masih terlalu sedikit yang kupahami namun banyak yang kurindu!!! Semoga ayah diberi kesehatan dan umur panjang. ‘Buku Bila Esok Ayah Tiada’ mengisahkan tentang sepuluh anak manusia yang mengisi hari-hari berbeda. Ketika ayah telah tiada lantas penyesalan apa yang terjadi? Kemudian mereka menjalani hidupnya, tanpa seorang ayah dengan membawa rasa sesal yang teramat dalam.


Jasa dan pengorbanan ayah amat besar, tak kalah dengan ibu. Sangat wajar jika anak wajib berbakti, menjaga nama baik, dan merawatnya saat renta. Jangan sampai di akhir masa hidupnya, justru anak menyia-nyiakannya. Sejak dalam kandungan, ayah selalu memberi nafkah anaknya. Selalu menjadi penopang hidup bagi anaknya hingga dewasa. Tak terhitung banyaknya aliran nafkah seorang ayah kepada anaknya.
Tak hanya itu, ayah juga menjadi pelindung, pengayom, dan pendidik bagi anak-anaknya. Tak heran, jika nasihat-nasihat selalu keluar dari mulutnya. Seorang ayah menjadi penuntun bagi buah hatinya agar tidak tergelincir dalam kesesatan.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar